Mengapa Harus Menulis?

TAK bisa dipungkiri bahwa setiap jejak peradaban selalu mendasari dirinya dari goresan-goresan sejarah¹. Untuk dapat diketahui, minimal oleh generasi berikutnya, maka pesan-pesan peradaban dan segala realitas yang berlangsung di dalamnya, sedikit banyak dituangkan melalui karya-karya yang sifatnya “dapat dibaca”.

Tersebutlah adanya kitab-kitab, prasasti, relief dan gambar-gambar yang mengisahkan secara “terbatas” kisah-kisah masa lalu. Secara sederhana, dalam keterbatasan kosa kata budaya saat itu, pesan-pesan peradaban yang dimaksud disampaikan dengan cara sederhana namun sesungguhnya dimengerti benar oleh mereka.

Menulis

Pun, menjadi tidak dapat dinafikkan adanya kecenderungan fitrawi manusia untuk meninggalkan jejak-jejak yang hendak bercerita tentang suka-duka dan pergolakan hidupnya. Ini terjadi karena manusia (barangkali) menuruti nisbahnya sebagai entitas sosial, yang dengannya ia niscaya membutuhkan “teman”.

Kehadiran “teman” di sini bukan hanya untuk menunaikan fungsi-fungsi peradaban manusia, tetapi juga agar beban hidup – baik secara sosial, psikologis maupun spiritual – dapat ia bagi secara horizontal.

Kebutuhan primordial seperti inilah yang menjadi alasan, mengapa hampir pada setiap peradaban selalu ada jejak-jejak yang seakan bercerita sesuatu hal tentang mereka. Itulah sejarah peradaban. Tiada sejarah tanpa pesan-pesan yang “terbaca”, baik melalui tulisan, lukisan maupun simbol-simbol budaya materiil lainnya.

Sesungguhnya jika kita menengok kembali hakekat penciptaan manusia, maka akan kita temukan bahwa sebagai bagian dari keseluruhan kosmos, maka kehadiran manusia di bumi adalah untuk membangun peradaban-peradaban.

Yang dimaksudkan adalah bangunan interaksi budaya yang disusun oleh kesadaran eksistensial bahwa manusia bertanggung jawab atas keseluruhan hidup, bukan saja untuk dirinya sendiri, tetapi juga di luar dirinya.

Karena itu, maka upaya untuk saling memahami dan saling mengerti antara satu dengan lainnya, menjadi keniscayaan. Hadirnya bahasa dan sistem komunikasi merupakan instrumen atas “tugas” kekhalifaan manusia yang antara lain kemudian diturunkan dalam wujud pesan-pesan yang terbaca.

Tugas Pertama Manusia

TURUNNYA Alquranul Karim diawali dengan kalimat instruksi Tuhan : Iqra’, yang artinya : bacalah!² Perintah Tuhan yang jika ditinjau secara mendalam bukan saja berarti leksikal untuk mengeja yang tertulis saja, tetapi juga agar setiap manusia berikhtiar untuk “membaca” (baca: memaknai) setiap fenomena di sekelilingnya.

Bukankah juga yang dapat tertulis secara lahiriah melalui struktur-struktur kata – seperti yang dimaksud pada bagian pertama pemaknaan “Iqra” di atas, adalah juga bagian sederhana dari kalimat-kalimat untuk mewakili kosmos?

Dengan demikian, upaya untuk memaknai kosmos dengan segala fenomenanya, pada gilirannya membuahkan konsekuensi bagi setiap manusia untuk melakukan apa yang disebut sebagai ibadah. Dalam ungkapan sederhananya, ibadah dimaksudkan sebagai “upaya menjaga kosmos agar tidak rusak dan memperbaikinya jika telah atau sedang rusak/dirusakkan”.

Karena manusia diciptakan dalam jumlah jamak, berbeda, dan berpasang-pasangan, maka untuk dapat menjaga atau memperbaiki kosmos diperlukan kapasitas manusiawi yang antara lain dapat berupa kemampuan untuk mengkomunikasikan “ikhtiar” manusia dalam bahasa-bahasa yang dapat dimengerti oleh unit kosmos lainnya.

Dalam hal ini, jika sebuah unit kosmos, misalnya seorang manusia tidak memiliki kapasitas untuk mengkomunikasikan gagasan “pemeliharaan dan atau perbaikan kosmos” kepada unit kosmos lainnya, maka kehadirannya di jagad kosmik menjadi sia-sia, tanpa arti apa-apa.

Karena proses “ibadat” sebagai tugas utama manusia di bumi, mensyaratkan adanya konteks keberterimaan bukan saja antar manusia, tetapi juga dengan keseluruhan makhluk lainnya, maka interaksi sosial menjadi kemutlakan bagi setiap manusia untuk dapat dianggap ada (being).

Karena itu, setiap entitas kosmik harus menyadari bahwa sebenarnya substansi keberadaannya di dunia ini adalah untuk saling berkomunikasi, menyampaikan pesan-pesan dari satu ke lainnya, menyambungkan gagasan dan ide-ide antar sesama entitas, baik dalam wujud tertulis maupun tidak tertulis/lisan. Untuk saling “membaca” satu dengan yang lainnya.

Ikhtiar Manusia atas Kosmos

DENGAN masing-masing potensi yang melekat pada diri manusia, maka harus pula disadari kemungkinan adanya perbedaan-perbedaan aktual dalam ikhtiar akibat pengaruh di luar manusia.

Persinggungan “gagasan-gagasan” sedikit banyak membuka ruang bagi terjadinya interaksi ide, dalam mana prosesnya akan menstimulir kreativitas manusiawi untuk mengungkapkan sebanyak mungkin hal yang dieksplorasi.

Makanya, semakin banyak pengalaman dan pengetahuan manusia akan fenomena-fenomena kosmik, akan mengkondusifkannya untuk lebih arif dalam memetakan situasi, termasuk untuk melahirkan ikhtiar-ikhtiar kosmik yang futuristik.

Dalam batasan ikhtiar, sebagaimana diperbincangkan di atas, manusia diniscayakan untuk menguasai metodologi komunikasi gagasan yang efektif, sehingga keseluruhan eksistensinya dalam jagad kosmos benar-benar teraktualkan dan bermakna bagi hidupnya.

Menyampaikan gagasan, bisa dilakukan dengan dua jalan, secara tertulis maupun dengan lisan. Hanya saja, sistem komunikasi lisan cenderung mengalami keterbatasan sebagaimana halnya komunikasi tulis, tetapi dalam kadar yang lebih besar dari komunikasi tertulis.

Keterbatasan bahasa akibat sebaran demografis dan kultur yang berbeda-beda, melahirkan jenis-jenis bahasa lisan yang, jika mengikuti alur sejarah banyak akhirnya mengalami kemunduran kosakata jika tidak punah sama sekali. Dalam beberapa kasus, bahasa lisan cenderung berumur pendek jika tidak didukung oleh “pengawetan” secara tertulis.

Karena itu, pilihan terakhir adalah mengembangkan bahasa tertulis, sehingga pada gilirannya, komunikasi gagasan sebagai bagian dari proses ikhtiar manusia, akan lebih banyak tersejarahkan melalui tulisan-tulisan.

Di samping itu, dimensi tertulis merupakan juga dimensi materiil, sehingga eksistensinya dapat diwaruskan secara riil, berbeda dengan dimensi lisan yang cenderung imateriil, dan karenanya cenderung subjektif dalam proses pewarisannya.

Harus Menulis

TIDAK bisa tidak, setiap manusia mestilah memiliki keterampilan “menulis”, sebagai salah satu alur utama fungsi kekhalifahannya. Jika tidak mampu menulis di atas lembaran-lembaran atau media tulis materiil, setidaknya ia dapat menorehkan gagasan-gagasan kosmiknya ke dalam relung hati atau di benak pemikirannya.

Karena idealnya setiap tulisan untuk dibaca, maka bagian terakhir ini memiliki konsekuensi yang mengharuskan manusia rela membuka hati atau benak pikirannya agar manusia lain bisa membaca dan mengerti gagasan-gagasannya.

Memang tidak bisa dinafikkan dependensi manusia atas konteks di mana ia berada. Jika konteks dimana manusia berinteraksi cukup kondusif, maka sesungguhnya tuntutan untuk meramaikan komunikasi gagasan menjadi semakin besar.

Dalam hal ini, dengan asumsi bahwa dalam konteks tersebut terdapat lonjakan kualitas akibat kondusifitas interaksi yang ada, maka lalu lintas gagasan menjadi cukup efektif untuk memberi sumbangsih berarti bagi pemeliharaan peradaban.

Salah satu konteks yang saat ini paling mungkin mewujudkan semua itu adalah dunia intelektual dan kependidikan. Eksistensi dunia seperti ini membuka ruang yang sebenarnya cukup besar untuk pengembangan budaya menulis.

Saat ini, meminjam ungkapan Asta Qauliyah (2002), “…dan menulislah, karena tulisan dapat memerdekakan. Jika tak dapat menulis di atas kertas, menulislah di dalam hati – konsekuensinya, kita harus rela membuka pintu hati, agar orang lain dapat membaca tulisan-tulisan di dalamnya….”, meniscayakan kita kembali meng-upgrade kapasitas intelektual, untuk selanjutnya menorehkannya dalam wujud tulisan-tulisan.

Karena sesungguhnya, kemampuan intelektual meniscayakan kepada kita sebuah amanah untuk membumikannya dalam wujud-wujud yang lebih bermanfaat bagi kehidupan dan kemanusiaan, dan bagi kemashlahatan proses-proses dinamis kosmik.

Salah satu jalannya adalah dengan menuliskan hasil transformasi gagasan-gagasan dalam benak intelektual kita, agar orang lain dapat mengetahuinya, setidaknya juga untuk “memanggil” gagasan-gagasan baru lainnya sebagai konsekuensi adanya polemik gagasan.

Jika mau jujur, sebenarnya kita, yang bergelut di dunia pendidikan dan keintelektualan, tidak layak disebut kaum intelektual jika tanpa disertai dengan kemampuan mentransformasikan gagasan-gagasan “abstrak” ke dalam bentuk riil, minimal berupa karya tertulis.

Jika tidak memiliki kapasitas seperti itu, maka – untuk kelompok intelektual seperti ini – bersiaplah disebut, mengutip idiom Alwi Rahman, Direktur Lembaga Penerbitan UNHAS, sebagai : “Intelektual yang akan Mati Kafir secara Akademik”. Satu hal yang perlu diingat, tidak ada kata “terlambat” untuk mulai (belajar) menulis!

1) Untuk hal ini, kita kembali mengurai bahwa perbedaan antara zaman pra sejarah dan zaman sejarah adalah adanya bukti-bukti peradaban yang tertulis. Zaman pra sejarah di Indonesia berakhir pada 400 SM, dimulai sejak ditemukannya prasasti (peninggalan tertulis) di eks kawasan kerajaan Hindu tertua di Indonesia, Kutai, Kalimantan Timur
2) QS. Al ‘Alaq : 1-4 merupakan wahyu Tuhan pertama yang diturunkan melalui perantaraan Malaikat Jibril a.s. kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira, Makkah. Turunnya wahyu pertama ini – ditegaskan dengan surah ke dua Q.S. Al Mudatzir – menandai dimulainya fase baru penyebaran ‘Dienul Islam di jazirah Arab hingga mencapai perkembangan yang seperti sekarang.

Makassar, 14 Februari 2007