Selamat Jalan, Mas Muchtadin!

Namanya Muchtadin Masruri bin Sayuti. Aslinya orang Solo. Ningrat pula. Seorang kawan dan sahabat yang sejatinya sudah seperti saudara sendiri. Hampir setiap hari kami pasti berinteraksi.

Muchtadin Bin Masruri Sayuti

Seperti caranya saat membantu teman, bercanda di Warkop atau mengeluarkan ide dalam keseharian kami, pada Jumat (05/08/2022) pagi sekitar pukul 09.15 WITA, Mas Muchtadin berpulang. Begitu tiba-tiba, begitu mengejutkan.

Padahal sepekan sebelumnya, pada 31 Juli 2022, komunitas SPOT Telkomas menggelar donor darah. Saya dan Mas Muchtadin adalah yang termasuk tidak lolos screening kesehatan karena tekanan darah terlalu tinggi. Jadilah kami peserta donor suara saja saat itu.

Pada Kamis (04/08/2022) malam, atau malam Jumat, seperti biasa, beliau masih hadir untuk Yaasinan bersama-sama dengan warga Telkomas di Warkop Wijaya. Tak ada tanda-tanda beliau akan berpulang.

BACA JUGA:  Inspirasi: Kisah Sopir Angkot, Ibu Miskin dan Penumpang Budiman

Sayangnya, saya tidak sempat hadir di acara rutin malam Jumat itu karena harus ke Bone untuk sebuah urusan mendadak dari IKA Unhas.

Innalillahi wa inna ilaihi raajiun.

Demikianlah ketetapan Allah. Tak seorang pun bisa memajukan, atau mengundurkannya.

Saya, dan kawan-kawan yang selalu mengawali hari di Warkop Wijaya Telkomas, benar-benar kehilangan sosok humoris dan ngangeni itu.

Meski hanya menjadi warga di samping perumahan Telkomas, Mas Muchtadin sepertinya sudah menjadi bagian penting dalam dinamika warga di Telkomas itu sendiri.

Beliau menginisiasi aktifitas kelompok Shalawatan rutin setiap Senin malam dan Yaasinan setiap Kamis malam yang dihelat di Warkop Wijaya.

Celoteh dan candaannya adalah hal yang khas. Sosoknya penuh pengalaman dan wawasannya luas. Banyak hal bisa diceritakannya dengan lugas dan terkadang sangat filosofis. Ia orang yang cerdas.

BACA JUGA:  Masjid Darussalam Kota Wisata, Kok Gitu Amat Yah?

Baginya, mengeksekusi ide adalah hal yang teramat penting dibanding ide itu sendiri. Karena itu, Mas Muchtadin kerapkali telah menyelesaikankan hal-hal teknis dan penting, baru kemudian membicarakannya.

Banyak yang hanya bisa memberi ide, pendapat atau saran untuk suatu masalah, Pak Asri. Tapi sedikit sekali yang bisa mewujudkan langsung,” kata beliau suatu ketika.

Saya sendiri belajar begitu banyak hal pada beliau. Sosok yang akhirnya memilih hidup lebih sederhana walau sebenarnya bergelimang uang dari banyak usahanya.

Wah, bingung mi saya Pak Asri mau ke mana lagi ini. Mau pulang ke rumah terlalu cepat, nanti dikira pengangguran oleh tetangga,” candanya jika Warkop Wijaya tutup karena sudah siang atau over target.

Ah, selamat jalan Mas Muchtadin. Damailah di sisi Allah.