Mori dan Raja Terakhir Owolu Marunduh

Suku Mori saat ini dikenal sebagai salah satu suku yang cukup besar dan berdiam di wilayah Sulawesi Tengah, sebagian kecil juga tersebar di wilayah Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan.

Raja Mori Owolu Marunduh (1928-1950)
Raja Mori terakhir Owolu Marunduh (1928-1950)

Dari kajian-kajian yang bersumber dari peninggalan leluhur yang didukung dengan kepustakaan yang ada, diketahui bahwa Mori mendiami wilayah persemakmuran yang terdiri dari gabungan wilayah otonom yang mempunyai pimpinan atau kepala suku sendiri-sendiri.

Walaupun demikian, bahasa, adat istiadat serta silsilah kepala suku atau pemimpin yang pernah menduduki jabatan dapatlah diketahui bahwa mereka berasal dari satu keturunan ratusan tahun yang silam.

Suku atau orang Mori dikelompokkan ke dalam dua sub suku bangsa, yaitu orang Mori Atas dan Orang Mori Bawah.

BACA JUGA:  Menjadi CALEG Biasa Saja, Tapi.........

Orang Mori Atas berdiam di sekitar daerah aliran Sungai La’a, Molio’a, Molong Kuni dan Ulu Woi. Sedangkan orang Mori Bawah berdiam di sekitar daerah aliran sungai La’a bagian hilir, Sungai Wotu dan Moiki.

Sebenarnya masih ada sub suku bangsa Mori yang ketiga, yaitu orang Mori Malili.

Kelompok ini berdiam di sekitar pesisir Danau Matano dan sepanjang hulu Sungai Matano yang dikenal sebagai orang Tamba’e, Pado’e dan Karunsi’e.

Raja Mori terakhir bernama Owolu Marunduh bergelar Datu Ri Tana Mori, atau Mokole Owolu Marunduh Raja Mori XIII (1928-1950).

Raja yang dikenal dengan semboyan “Metumbah allo komba aku monsuka” memimpin perlawanan rakyat Mori terhadap kekuasaan Kolonial Belanda pada tahun 1907.

BACA JUGA:  Inilah 100 Perintah Allah Kepada Manusia Menurut Al-Qur'an

Alhamdulillah, saya berhasil mendapatkan foto sang raja langsung dari cicitnya yang merupakan sahabat saya, Rivi Handayani. Sayangnya, sejarah kerajaan Mori juga semakin memudar sepeninggal raja terakhir ini. **