AsriTadda.com
 

Memimpin di Tengah Riuhnya Bisikan

DALAM sejarah kepemimpinan, kita sering menyaksikan pemimpin jatuh bukan semata karena lawan yang kuat, melainkan karena bisikan-bisikan dari lingkaran terdekatnya.

Orang-orang ini, yang sering kita sebut “para pembisik”, kadang tidak punya posisi resmi, tidak punya mandat publik, bahkan tak jarang luput dari tanggung jawab hukum dan moral.

Pemimpin dan Para Pembisik

Tetapi mereka punya dua hal yang sangat menentukan, yakni akses dan kepercayaan personal dari sang pemimpin. Dua hal inilah yang membuat mereka mampu mengarahkan alur keputusan, bahkan lebih kuat daripada data resmi dan prosedur kelembagaan.

Bahaya terbesar dari para pembisik adalah ketika arus informasi yang masuk ke meja pemimpin mengalami distorsi. Informasi itu disaring, dipoles, dan dibungkus dengan kepentingan tertentu, sehingga yang tersisa bukan lagi kebenaran, melainkan narasi yang menguntungkan pihak tertentu.

Pemimpin pun, karena keterbatasan waktu dan energi, cenderung menerima informasi itu apa adanya. Akibatnya, keputusan besar sering lahir bukan dari analisis objektif, melainkan dari bisikan yang menyesatkan.

Belajar dari Sejarah

Kita bisa belajar dari sejarah. Pada tahun 1961, Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy terjerumus dalam tragedi invasi Teluk Babi di Kuba. Kegagalan itu bukan karena militer Amerika lemah, melainkan karena proses pengambilan keputusan dikuasai oleh suasana “groupthink” di lingkaran terdekat Kennedy.

Tidak ada yang berani mengajukan kritik, semua bisikan terdengar sama, dan keputusan pun diambil dalam ruang gema yang penuh ilusi. Kennedy belajar dari kegagalan itu. Setahun kemudian, saat krisis misil Kuba, ia justru memberi ruang besar bagi pihak yang menentang pandangan dominan, dan hasilnya jauh lebih hati-hati sekaligus efektif.

Dunia bisnis pun punya kisah serupa. Nokia, raksasa teknologi yang sempat menguasai pasar ponsel dunia, tumbang bukan hanya karena Apple atau Android, tetapi juga karena budaya internal yang penuh ketakutan.

Informasi buruk tentang lemahnya perangkat lunak dan keterlambatan inovasi disaring habis-habisan sebelum sampai ke manajemen puncak. Hasilnya, para pemimpin Nokia terlalu percaya diri, terlalu lambat merespons perubahan, hingga akhirnya tertinggal dan jatuh.

Kasus lain datang dari Boeing dengan 737 Max. Dua kecelakaan fatal pada 2018 dan 2019 mengungkap betapa informasi teknis yang seharusnya menjadi alarm keselamatan justru direduksi oleh tekanan bisnis dan narasi bahwa “semua terkendali”.

Bisikan tentang target pasar dan kecepatan produksi lebih nyaring daripada peringatan insinyur. Narasi mengalahkan fakta, hingga korban jiwa menjadi pengingat pahit.

Fenomena yang sama juga kerap terjadi di dunia politik lokal. Seorang kepala daerah bisa kehilangan legitimasi bukan karena lawan politik, melainkan karena orang-orang dekatnya yang memonopoli akses.

Mereka mengatur proyek, mengendalikan birokrasi, dan menyajikan solusi cepat yang tidak jarang sarat kepentingan. Pada akhirnya, pemimpinlah yang menanggung semua konsekuensi—mulai dari masalah hukum hingga hilangnya kepercayaan publik.

Pemimpin dan Para Pembisiknya

Mengelola Arus Informasi

Lalu bagaimana seorang pemimpin dapat bertahan di tengah pusaran bisikan? Jawabannya bukan dengan menutup diri dari nasihat, melainkan dengan menetapkan standar dalam mengelola arus informasi.

Pertama, pemimpin harus memastikan dirinya mendengar dari berbagai sumber, tidak hanya dari satu lingkaran kecil. Laporan resmi, kajian independen, dan suara lapangan harus mendapat porsi yang seimbang.

Kedua, informasi yang masuk perlu divalidasi. Tidak ada keputusan penting yang boleh diambil hanya berdasarkan satu memo atau satu cerita. Mekanisme cek silang adalah harga mati.

Ketiga, pemimpin harus berani membangun tim inti yang dipilih bukan karena kedekatan personal, melainkan karena integritas dan kapasitas.

Penasihat yang baik bukanlah mereka yang pandai membisikkan kabar manis, melainkan yang berani menyampaikan kabar buruk. Bahkan, seorang pemimpin yang bijak akan menjadikan kabar buruk sebagai bagian rutin dalam rapat, agar terbiasa melihat realitas apa adanya.

Keempat, seorang pemimpin sejati tidak boleh kehilangan kebiasaan untuk turun langsung. Sesibuk apa pun, ia perlu menyentuh realitas di lapangan, bertemu dengan rakyat, mendengar langsung suara pengguna layanan, atau melihat dengan mata kepala sendiri. Dengan begitu, ia tidak hidup dalam gelembung yang diciptakan oleh para pembisik.

Bisikan dari Perspektif Spiritual

Dalam perspektif spiritual, terutama dalam ajaran agama-agama samawi, bisikan bukan hanya datang dari manusia. Terdapat satu entitas tak kasatmata yang sejak awal sejarah manusia dikenal sebagai sumber utama bisikan yang menyesatkan, yaitu setan.

Dalam Islam, misalnya, disebutkan bahwa setan menggoda manusia melalui waswas—bisikan halus ke dalam hati dan pikiran manusia. Godaan ini tidak selalu frontal, tetapi seringkali dibungkus dengan keinginan baik, janji keuntungan, atau ilusi kekuasaan.

Bahkan dalam Al-Qur’an, kisah tentang tergelincirnya Adam dan Hawa dari surga bermula dari bisikan setan. Ini menegaskan bahwa bahaya terbesar dalam kepemimpinan bisa datang bukan dari musuh terbuka, melainkan dari suara samar yang terdengar meyakinkan.

Dalam konteks kepemimpinan, bisikan setan ini bisa termanifestasi lewat manusia—orang-orang dekat, penasihat, bahkan sahabat yang tanpa disadari menjadi corong bagi kepentingan jahat. Maka tak heran bila banyak pemimpin justru jatuh dalam dosa korupsi, kesewenang-wenangan, hingga kekejaman, bukan karena tidak tahu, tetapi karena terbuai oleh suara yang salah.

Inilah pentingnya ketajaman nurani, penguatan spiritualitas, dan disiplin batin dalam diri seorang pemimpin. Mereka yang memiliki akal cerdas tapi miskin kebeningan hati akan mudah terombang-ambing dalam pusaran bisikan duniawi.

Sebaliknya, pemimpin yang membentengi diri dengan keimanan dan nilai moral yang kuat, akan lebih mampu mengenali mana suara kebenaran dan mana bisikan kehancuran.

Ilustrasi Pemimpin dan Para Pembisik

Menjaga Kemerdekaan Berpikir

Memimpin di tengah bisikan memang bukan perkara mudah. Tapi justru di situlah letak kualitas kepemimpinan diuji.

Kepemimpinan bukan hanya soal keberanian mengambil keputusan, tetapi juga soal menjaga kemerdekaan berpikir di tengah banyak suara yang ingin menguasai telinga. Begitu kemerdekaan itu hilang, seorang pemimpin tak lagi memimpin, melainkan hanya menjalankan narasi yang dibisikkan orang lain.

Pada akhirnya, sejarah akan selalu membuktikan bahwa pemimpin yang mampu mengatur arus informasi dengan baik, yang berani mendengar kabar buruk, yang tetap berpijak pada data dan realitas, merekalah yang akan dikenang.

Sebaliknya, mereka yang menyerahkan pikirannya pada bisikan akan tumbang—dan seringkali tumbangnya menyisakan luka besar bagi organisasi, bangsa, bahkan sejarah. (*)

Makassar, 19 Agustus 2025

BERI TANGGAPAN

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *