AsriTadda.com
 

Kampus (Unhas) Berdampak: Saat Ruh Gagasan Menemukan Jalan Pulang

KETIKA beberapa waktu lalu saya menulis artikel berjudul Pilrek Unhas dan Alarm Matinya Gagasan, sesungguhnya ada kegelisahan mendasar bahwa Universitas Hasanuddin perlahan seperti mulai kehilangan ruh akademiknya.

Gedung Rektorat Universitas Hasanuddin
Gedung Rektorat Universitas Hasanuddin

Pemilihan Rektor (Pilrek) telah menjauh dari arena perdebatan ide atau semacam marketplace of ideas, menjadi sekadar arena politik kampus yang pragmatis.

Namun, dalam beberapa pekan terakhir, muncul sebuah wacana baru dari salah satu calon rektor, yakni konsep “Kampus Berdampak” yang diusung Prof. Budu.

Ia berbicara tentang pentingnya Unhas hadir di tengah masyarakat, menghadirkan manfaat nyata melalui riset, inovasi, dan kolaborasi desa berbasis penelitian.

Bagi saya, ini bukan sekadar jargon baru. Jika dijalankan dengan kesadaran epistemik yang kuat, “Kampus Berdampak” bisa menjadi jembatan yang mempertemukan kembali gagasan dengan kenyataan.

Kampus Berdampak

Kampus berdampak bukan berarti kampus yang sibuk menebar proyek atau program pengabdian tanpa ruh.

Dampak sejati dari sebuah kampus bukan diukur dari jumlah kegiatan, melainkan dari seberapa jauh pengetahuan yang lahir di ruang akademik benar-benar menyentuh kehidupan rakyat.

Unhas, dengan sejarah panjang dan modal intelektual yang besar, punya peluang besar untuk menjadi pelopor transformasi ini.

Namun, agar “berdampak” tak hanya jadi slogan, kampus harus menghidupkan kembali proses berpikir kritis, debat akademik, dan tradisi riset yang mendorong perubahan sosial.

Dampak adalah buah. Dan buah hanya tumbuh jika akar gagasan hidup.

Salah satu ide menarik dari Prof. Budu adalah membangun Desa Kolaboratif Berbasis Riset.

Ini langkah konkret untuk menembus sekat antara kampus dan masyarakat. Tetapi, ia akan kehilangan makna bila hanya dikelola secara administratif.

Desa kolaboratif hanya akan hidup bila para dosen, mahasiswa, dan peneliti datang dengan keinginan untuk belajar dari masyarakat, bukan sekadar mengajari.

Inilah yang membedakan kampus berdampak dari proyek sosial biasa, dimana ada pertukaran pengetahuan yang setara antara akademia dan realitas sosial.

Di titik inilah tradisi ilmiah dan empati sosial harus berjalan beriringan.

Universitas Hasanuddin

Rektor sebagai Arsitek Gagasan

Gagasan sebesar “Kampus Berdampak” hanya bisa hidup jika rektornya berperan sebagai arsitek gagasan, bukan sekadar manajer kebijakan.

Ia harus menjadi figur yang menyalakan percakapan intelektual, menumbuhkan atmosfer ilmiah, dan menginspirasi sivitas akademika untuk berpikir melampaui ruang fakultas.

Kita tidak kekurangan data, tapi sering kekurangan narasi besar. Kita juga tidak kekurangan proyek, tetapi acapkali belum menemukan arah yang tepat.

Seorang rektor visioner, menurut saya, harus mampu mengikat berbagai upaya itu dalam satu bingkai moral dan intelektual, menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kekuatan pembebas, bukan sekadar alat pencitraan.

Bila kritik dalam tulisan saya sebelumnya boleh dimaknai sebagai semacam alarm, maka gagasan “Kampus Berdampak” ini bisa dibaca sebagai jawaban awal terhadap alarm itu.

Namun demikian, gagasan Prof Budu ini hanya akan berarti bila benar-benar menjadi gerakan kolektif yang menghidupkan kembali ekosistem pengetahuan di Unhas.

Dosen perlu diberi ruang dan insentif untuk meneliti hal-hal yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Mahasiswa perlu diajak turun ke lapangan dengan semangat ilmiah, bukan sekadar kegiatan seremonial. Senat dan birokrasi kampus perlu berani memihak pada ide, bukan pada kekuasaan.

Dengan begitu, “berdampak” tidak lagi sekadar retorika, melainkan kenyataan yang terasa — di kampus, di desa, dan di hati masyarakat luas.

Penutup

Universitas yang besar bukan hanya karena ranking dan akreditasi, melainkan karena gagasannya hidup dan berdampak.

Bila ruh akademik kembali menemukan jalan pulang melalui visi baru ini, maka Unhas akan kembali pada takdir sejarahnya: sebagai mercusuar ilmu pengetahuan di Timur Indonesia.

Dan di hari itu, kita bisa berkata dengan bangga bahwa alarm itu bukan tanda kematian gagasan, melainkan panggilan untuk membangunkannya kembali.

Makassar, 7 Oktober 2025
Asri Tadda (Alumni Unhas)

BERI TANGGAPAN

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *